Memori Flash dalam Harddisk dan Motherboard
Pada saat ini memori flash tidak hanya digunakan dalam sebuah USB flash disk, kartu memori dan pemutar portabel (MP3/MP4 player), tetapi ditanamkan ke dalam harddisk dan bahkan motherboard. Pernah dengar tentang harddisk hibrida dan SSD (Solid State Drive yang disebut juga Solid State Disk)? Keduanya mengandung memori flash. SSD bahkan 100% menggunakan memori flash untuk menyimpan data sebagai ganti piringan yang berputar pada harddisk ‘lama’. Selain flash (NAND memori non-volatile), pengganti harddisk pada notebook ini bisa menggunakan memori volatile seperti SDRAM.
Sementara itu harddisk hibrida adalah harddisk magnetik yang di tambahi memori flash 256 – 512MB sebagai memori cache, untuk penyimpanan jangka pendek ‘dari dan ke’ hardisk. Teknologi ini dirancang untuk menghilangkan waktu delay ketika komputer menyimpan dan mengambil berkas dari hardisk. Dengan demikian beban kerja hardisk akan berkurang sehingga menghemat konsumsi daya. Harddisk hibrida juga disebut-sebut bisa mempercepat kinerja komputer karena baca-tulis pada flash lebih cepat dari baca-tulis pada hardisk. Teknologi ini dikembangkan oleh Microsoft dan akan disertakan dalam sistem operasi Windows Vista. Memori flash berfungsi seperti pacu Ready-Boost ketika digunakan dalam sistem operasi Windows Vista.
Namun menurut Nathan Su (Flash memory Product Manager, APAC Business Division, Kingston Technology) dalam e-mailnya kepada InfoKomputer, harddisk hibrida yang dikembangkan Samsung, Seagate dan Maxtor sesungguhnya tetaplah sebuah harddisk drive tradisional dengan bagian-bagian yang bergerak. Rentan kegagalan mekanis, mengkonsumsi banyak daya dan tidak secepat SSD yang 100% berbasis flash.
Tujuan harddisk hibrida maupun SSD di motherboard sebenarnya sama, yaitu meningkatkan kinerja PC. Karena itulah Intel pun mengembangkan teknologi serupa berjuluk Robson. Robson bahkan disebut-sebut akan menjadi kompetitor kuat bagi harddisk hibrida dari Samsung. Solusi Robson Intel berbeda dengan drive hibrida. Disini flash ditanamkan ke dalam motherboard, bukan harddisk, untuk melengkapi operasi CPU. Jadi SSD akan menjadi komplemen dari solusi Robson Intel, bukan bersaing dengannya.
Pada skenario Robson, seluruh sistem operasi akan dimuat ke memori flash, sehingga booting terlaksana langsung dari cache. Pendekatan ini berbeda dengan yang terjadi pada harddisk hibrida. Pada harddisk hibrida, Microsoft menambahkan cache non-volatile ke harddisk untuk menyimpan sektor-sektor yang sering dipanggil demi mempercepat booting.
Sumber:
1. Majalah INFOKOMPUTER, edisi Mei 2007